Silabus Kuliah Ilmu kalam

COURSE DESIGN
STRATEGI PEMBELAJARAN ILMU KALAM
TAHUN AKADEMIK 2009/2010
I. IDENTITAS
A. Mata Kuliah
1. Nama Mata Kuliah : Ilmu Kalam
2. Komponen/ Kode : IAIN643
3. Bobot : 2 sks
4. Hari/ Jam Kuliah : Kamis, 12.30-14.10.
5. Ruang Kuliah : R. 16
6. Semester/Prodi : 6 PBI-A

B. Identitas Dosen
1. Nama : Mustopa, M.Ag
2. NIP : 19660815 200501 1 003
3. Alamat : – Sukarindik I no:7 Indihiang Kota tasikmalaya
Telp./ HP : 0265-346176/ 08164667880
– Griya Sunyaragi Permai blok G / 45 Cirebon
4. Hari/ Jam Konsultasi : Senin- Jum at/ Jam kerja

II. KOMPETENSI MATA KULIAH
Mahasiswa mengenali dan memahami pemikiran kalam yang dikonstruk oleh para teolog dan dapat memahami hakekat keimanan, juga dapat merefleksikannya dalam pola pikir dan pola laku.

III. DESKRIPSI MATA KULIAH
Mata kuliah ini disajikan untuk memberikan sejumlah wawasan keilmuan dan pemahaman tentang berbagai persoalan dalam pemikiran Kalam guna membekali mahasiswa untuk menjadi Sarjana Agama yang mampu mengenali dan memahami metodologi pemikiran Kalam (jadali).
Diawali dengan pembahasan hakekat sejarah timbulnya ilmu kalam dan hubungan ilmu kalam dengan ilmu lain. Kemudian dilanjutkan dengan analisis beberapa ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang dijadikan sumber acuan dalam hakekat keimanan.
Selanjutnya adalah pembahasan pemikiran kalam yang ditelurkan oleh aliran-aliran dalam ilmu kalam sehingga dapat dilakukan kritik dan mencari titik perbedaan dan persamaan pemikiran kalam aliran Khawarij, Murji’ah, Jabariah, Qadariah, Mu’tazilah, Syi’ah, dan Ahlussunnah setelah mengetahui sejarah timbulnya. Tema-tema yang diangkat adalah sekitar diskursus yang terjadi di kalangan mutakallimin seperti tentang pelaku dosa besar, iman dan kufur, perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia, kehendak mutlak dan keadilan Tuhan, serta sifat-sifat Tuhan.
Setelah menganalisi pemikiran kalam klasik maka guna menghadapi konteks kekinian, pemikiran ulama modern dan masa kini menjadi pembahasan yang sangat urgen. Dengan mengambil pemikiran beberapa tokoh seperti Muhammad Abduh, Ahmad Khan, Hasan Hanafi, Al-Faruqi, M Rasyidi, Harun Nasution, dan Nurkholis Majid, mahasiswa diarahkan untuk menganalisis faham teologi mereka sehingga mampu menjadi seorang muslim yang berkepribadian Islami dan berkeimanan kuat. Hal tersebut berdasar pada konsep teologi yang dibangun oleh para mutakallimin baik pada masa lalu atau pada masa kini, sehingga mata kuliah Ilmu Kalam menjadi pembelajaran sikap hidup sehari-hari.

IV. MATERI/TOPIK

Pertemuan
ke
Materi / Topik
Penyaji
Keterangan

1.

Kontrak Belajar dan penyampaian materi :
1. Dasar-dasar Qur’ani dan Sejarah timbulnya Ilmu Kalam (Kontak kebudayaan Yunani dan Arab).
2. Kerangka berfikir aliran Ilmu Kalam.
3. hubungan Ilmu Kalam, Falsafat dan Tasawuf
Dosen
25 Feb’10
2.
Pemikiran Kalam :
4. Al-Khawarij dan Al-Murji’ah
Kel.1
4 Maret’10
3. 5. Al-Jabariyah dan Al-Qadariyah Kel.2 11 Maret’10
4. 6. Al-Mu’tazilah Kel.3 18 Maret’10
5. 7. Al-Syi’ah Kel.4 25 Maret’10
6.
8. Ahl al-Sunah : Salaf (Ibn Hanbal dan Ibn Taimiyah) Kel.5 1 April’10
7. 9. Ahl Al Sunah : Khalaf (Asy’ari dan Maturidi). Kel.6 8 April’10
8. Ujian Tengah Semester (UTS) 15 April’10
9.
10. Perbandingan Pemikiran Kalam :
a. Pelaku dosa besar.
b. Iman dan Kufur
Kel.7
22 April’10
10. c. perbuatan Tuhan dan manusia
d. kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan
e. Sifat-sifat Tuhan
Kel.8
29 April’10
11. 11. Konsep Kekhalifahan sebagai manifestasi Iman dalam aspek keilmuan, hukum, ibadah, kekuasaan, akhlaq dan pendidikan.
Kel.9
6 Mei’10
12. 12. Pemikiran kalam Modern : Abduh, Ahmad Khan dan Iqbal.
Kel.10
20 Mei’10
13. 13. Pemikiran Kalam masa kini : Hasan hanafi dan Al-Faruqi.
Kel.11
27 Mei’10
14. 14. Pemikiran kalam di Indonesia : HM Rasyidi Harun Nasution, Nurkho lis Majid.
Kel.12
3 Juni’10
15. Kapita Selekta 10 Juni’10
16. Ujian Akhir Semester (UAS) Diatur oleh Fakultas/Jurusan

V. BUKU SUMBER
1. Al-Asy’ari, Abu Hasan ‘Ali Ismail, Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, Kairo : Maktabah Nahdhah al-Mishriyyah, cetakan I, 1950.
2. Al-Badawî, ’Abd al-Rahmân. 1971. Madzâhib al-Islâmîyîn Juz I. Beirût: Dâr al-’Ilm lî al-Malâyîn
3. Al-Baghdadi, Abd Qahir ibn Thahir ibn Muhammad, Al-Farq bain al-Firaq, Mesir: Muhammad Ali Shubih, t.t.
4. Al-Bazdawi, Kitab Ushul al-Din. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
5. Al-Faruqi, Ismail Raji, Tawhid: Its Implications for Thought and Life. Wyncote Pensylvania USA: The International Institute of Islamic Thoughts, 1982.
6. Al-Ghurabi, Ali Musthofa, Tarikh al-Firaq al Islamiyyah wa nasy’at ilm al-Kalam’ind al-Muslimin, Mesir: Muhammad Ali Shubih, 1957.
7. Al-Syahrastani, Abu Bakar Ahmad, Al-Milal wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
8. Abd. Al-Halim Mahmud, Al-Tauhid al-Khalish. Mesir: Muhammad Ali Shubih, t.t.
9. Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah, Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1986.
10. ——————— Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya jilid 1 dan 2. Jakarta : UI Press, 1986.
11. ———————- Islam Rasional. Bandung: Penerbit Mizan, 1998.
12. Mahmud Subhi, Ahmad, Fi ‘Ilm al-Kalam: Dirasah Falsafiyyah al-Mu’tazilah, al-‘Asya’ariyyah, al-Syi’ah, Iskandariyyah : Dar al-Kutub al-Jami’iyyah, 1969.
13. ————-, al-Mu’tazilah. Iskandarîyah: Mu’assasat al-Saqâfat al-Islâmîyah, 1982.
14. Muhammad Ahmad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Kairo: Makatabah al-Namudzajiyyah, t.t.
15. Muhammad ibn Abd al-Wahhab, Kitab al-Tawhid: al-ladzi Huwa Haqq Allah ‘ala al-‘Abid. Beirut: al-Maktab al-islamiy, 1391 H.
16. Musa, Jalal Muhammad, Nasy’at al-Asy’ariyyah wa Tathawuruha, Beirut: Dar al-Kutub al-Lubnani, 1975.
17. Rasyidi, HM, Islam dan Kebatinan. Jakarta: PT Bulan Bintang, 1992.
18. Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam. Bandung : Pustaka Setia, 2001.
19. Taymiyah, Ibn. Iqtidlâ’ al-Sirâth al-Mustaqim Mukhâlafat Asbâb al-Jahim, Beirut: Penerbit Dar al-Fikr, t.t.
20. TM Abdul Mu’in. Ilmu Kalam. Jakarta : Penerbit Mutiara, 1979.
21. Wolfson, Harry Austryn. The Philoshopy of Kalam, Cambridge: Harvard University Press, 1976.
22. Dll.

VI. STRATEGI

Untuk mencapai tujuan pembelajaran, Mata Kuliah ini akan disampaikan dengan sejumlah strategi, yaitu: Lecturing, Small and Big Discussion, debating, Power Of Two, Listening Team, dan Question Students Have. Sejumlah strategi ini akan digunakan dengan sinergis untuk memperkuat pencapaian tujuan pembelajaran.

VII. EVALUASI PROSES DAN PRODUK STUDY

1. Sebagai syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa harus mengikuti perkuliahan di kelas Minimal 75 %
2. Keaktifan kelas : 20%
3. Ujian Tengah Semester : 10%
4. Tugas (Terstruktur/Mandiri) : 20%
5. Ujian Akhir Semester : 50%

Cirebon, Februari 2010
Dosen Pengampu,

Mustopa, M. Ag
NIP. 19660815 200501 1 003

2 responses

13 05 2010
Latief Surjana nimko 0801107

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH ILMU KALAM

JUDUL
Perbandingan Aliran Tentang Dosa Besar,Sifat Allah,Perbuatan Manusia dan Keadilan Allah

1. LATIEF SURJANA 2. AI HARYANI
3. FITROTUL HAYAT 4. PIPIH SAADATUL W

JURUSAN PAI KELAS KONVERSI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TASIKMALAYA
2009 / 2010

KATA PENGANTAR

Dengan ucapan Alhamdulillahlirabbilalamin sebagai rasa terima kasih dan puji syukur kepada Allah S.W.T., Tuhannya manusia, makalah dengan judul Perbandingan Aliran Tentang Dosa Besar, Sifat Allah, Perbuatan Manusia dan Keadilan Allah ini dapat terselesaikan.
Salah satu tujuan dari disusunnya makalah ini adalah untuk bahan Tugas Ke;ompok pada Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya , semoga memenuhi harapan yang dimaksud.
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan huluran tangan berbagai pihak yang simpatik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Drs. Mustopa , M.Ag. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan kritikan.
2. Seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya yang telah memberikan iklim kondusif dalam menimba ilmu.
Tentunya dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kesalahan baik dari segi kosa kata maupun dari segi pengertian. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar dimasa mendatang dapat lebih baik .

Tasikmalaya, Mei 2010
Penyusun

BAB I. PENDAHULUAN

Persoalan politik dimasa Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang menerima abitrase dari Mu’awiyah Bin Abi Sofyan pada perang Siffin. Diduga sebagai titik awal munculnya persoalan teologi, yaitu timbulnya persolan kafir dan siapa yang tidak kafir dalam arti siapa yang tetap dalam Islam dan siapa yang sudah keluar dari Islam
Pada era selanjutnya Khawarij pun pecah kepada beberapa sekte, konsep kafir turut pula mengalami perubahan yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang menentukan hukum dengan Al Qur’an, tetapi yang berbuat murtakib al-kabair (capital sinners), juga dipandang kafir. Persoalan berbuat dosa besar inilah yang kemudian turut andil besar dalam pertumbuhan teologi selanjutnya. Paling tidak ada tiga aliran teologi dalam Islam, pertama Khawarij yang memandang bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar dari Islam atau murtad, oleh karenanya wajib dibunuh, kedua, Murjiah yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin bukan kafir, soal dosa besar yang dilakukannya, diserahkan kepada Allah untuk mengampuni atau tidak; ketiga, aliran Mu’tazilah yang menolak kedua pandangan-pandangan kedua aliran-aliran diatas. Bagi Mu’tazilah orang berdosa besar tidak lah kafir, tetapi bukan pula mukmin, mereka menyebutnya manzilah bainal manzilataini (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih rasional bahkan liberal dalam beragama.
Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cendrung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisional Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab imam Ibn Hambal, sepeninggal al Ma’mun pada dinasti Abbasiah, syiar Mu’tazilah berkurang bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh khalifah al Mutawakkil. Perlawanan terhadap Mu’tazilah pun tetap berlangsung, mereka (yang menentang) kemudian membentuk aliran teologi tradisional yang digagas oleh Abu al Hasan al Asy’ari yang semula seorang Mu’tazilah. Aliran ini lebih dikenal dengan al Asy’ariah, di Samarkand muncul pula penentang Mu’tazilah yang dimotori oleh Abu Mansur Al Mauturidi., Aliran ini dikenal dengan Maturidiah.
BAB II. PEMBAHASAN

Makalah ini secara sederhana akan membahas tentang perbandinngan pokok-pokok pikiran aliran dalam Islam tentang Dosa Besar, Sifat Allah, Perbuatan Manusia dan Keadilan Allah. Dan bila ditelusuri lebih dalam memang terdapat perbedaan yang cukup besar, malah bertolak belakang, namun bukan berarti masing-masing aliran tersebut tidak memiliki alasan aqli maupun naqli :
II.1 Perbandingan Antar Aliran : Pelaku Dosa Besar
1. Dosa Besar
Penentuan seseorang yang melakukan dosa besar, apakah masih disebut mukmin atau sudah dikategorikan sebagai kafir, kiranya persoalan inilah yang menjadi perdebatan diantara aliran-aliran teologi Islam, walaupun sebenarnya dalam pengkategorian itu sangat erat kaitannya dengan cara pandang mereka terhadap Allah.
Menurut Khawarij orang Islam yang melakukan dosa besar seperti zina, dan membunuh manusia tanpa sebab telah termasuk orang kafir dan keluar dari Islam. Akan dimasukkan kedalam neraka selamanya, paham ini memanng mengalami perkembangan dibebarapa sekte Khawarij, namun pada hakikatnya bertititik tolak pada persoalan diatas, Sedangkan menurut Murjiah orang islam yang berdosa besar belum dikategorikan sebagai kafir, tetapi tetap sebagai mukmin, soal dosa besarnya diserahkan kepada keputusan Allah, Jika mendapat pengampunan dari Allah dia akan dimasukkan kedalam surga tetapi bila tidak dia akan dimasuksakan kedalam neraka sesuai berat dosa yang dilakukannya, setelah itu dia akan dimasukkan kedalam surga karena bagaimana pun dia masih mengakui adanya Allah serta pernah melakukan kebaikan. Sedangkan Mu’tazilah berkeyakinan bahwa orang melakukan dosa besar bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi mengambil posisi diantara kafir dan mukmin (almanzilah bainal manzilataini).
Kemudian golongan Asy’ari mengemukakan bahwa orang yang berdosa besar adalah tetap mukmin, sebab keimanannya masih ada, tetapi karena dosa besar yang dilakukannya ia menjadi fasiq. Terserah kepada Allah apakah diampuniNya kemudian dimasukkan kedalam surga, atau di jatuhi siksa-siksa terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian dimasukkan kedalam surga. . Hal senada juga diyakini oleh kaum Maturidiah : bahwa orang yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin dan soal dosa besarnya akan ditentukan kelak di akhirat.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa Murjiah, Asy’ariah dan Maturidiah memahami bahwa pelaku dosa besar, tetap mukmin, apakah kelak Allah akan mengampuni dosa yang telah dilakukannya itu tergatung pada keputusan Allah, dan bila Allah memberi ampunan maka yang bersngkutan akan masuk kedalam surga, tetapi bila tidak, tetaplah dia berada di dalam kobaran api neraka. Pendapat ini sangat berseberangan dengan pendapat golongan Khawarij dan Mu’tazilah yang yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, tetapi menurut khawarij pelaku dosa harus dibunuh dan akan dimasukkan kedalam neraka selamanya, sedangkan Mu’tazilah berpendapat pelaku dosa besar tidak di neraka tetapi tidak juga disurga.
2. Sifat Allah
Mu’tazilah menetapkan bahwa Allah tidak memiliki sifat diluar Zat-Nya, Zat-Nya terisi sendiri (self contained) dan tidak memerlukan sifat-sifat yang terpisah. Jika Allah dianggap memilki sifat yang terpisah dari Zat-Nya apakah sifat-sifat ini qadim atau tidak jika tidak qadim pasti itu bukan Allah, dan sebaliknya jika qadim, maka ada dua yang qadim, pertama Allah dan kedua sifat-Nya, ini juga suatu hal yang mustahil.dan bertentangan dengan Qs. Ar Rahman [25] : 27, dan secara logika bahwa bila dianggap Allah memilki sifat terpisah dari sifat-Nya, berarti ada senggang waktu ketika Allah belum memilki sifat dengan melekatnya sifat itu kepada Allah,Sedangkan menurut Asy’ari bahwa Sifat Allah itu Abadi, sifat-sifat itu sama sekali bukan Zat-Nya sama abadinya dengan Allah, dan sifat ini berada di luar Zat-NYa. Allah Maha mengetahui dengan Ilmu-Nya, bukan denngan Zat-Nya, begitu juga Allah itu berkuasa dengan sifat Qudrah-Nya, bukan dengan Zat-Nya.
Al Maturidi kemudian muncul dan menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah, tetapi ia mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang di luar Zat-Nya, bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Zat-Nya dan tidak pula terpisah dari Zat-Nya sifat-sifat tersebut tidak mempunyai eksistensi yang mandiri dari Zat-Nya, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa banyaknya sifat-sifat itu akan membawa kepada banyaknya yang qadim (kekal)
3. Perbuatan Manusia
Apakah manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam perbuatannya?, Apakah kehendak dan kemauan manusia tidak dikalah oleh kehendak dan kemauan Allah?, Apakah kehendak Allah termasuk seluruh peristiwa dan perbuatan serta tiada satu pun dari peristiwa dan perbuatan ini kehendak Allah? Apabila kehendak Allah bersifat umum, lantas bagaimana menjelaskan kebebasan manusia?, sepertinya pertanyaan-pertanyaan diatas menjadi sumber perbedaan pendapat dalam aliran teologi Islam atau lebih jelasnya dapat dikatakan dimana posisi Allah dalam setiap tindakan hambaNya.
Mu’tazilah mengakui bahwa perbuatan manusia adalah sebenar-benarnya perbuatan manusia dan bukan perbuatan Allah, maka daya yang mewujudkan perbuatan itu juga daya manusia dengan pengertian Allah membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya, Allah menciptakan daya dalam diri manusia dan pada daya inilah bergantunng wujud perbuatan itu, dan bukan yang dimaksud bahwa Allah membuat perbuatan yang telah dibuat manusia. Manusia telah diberi wewenang untuk menentuka nasibnya sendiri, dia boleh menjalani dengan baik atau yang jelek tereserah kehendaknnya, Salah satu dalil naqli yang dipergunakan kaum Mu’tazilah dalam memperkuat argument ini yaitu dengan mengutif ayat Al Qur’an…. maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”… (QS. Al Kahfi : 29)
Argumen lain dalam menguatkan pendapat diatas Mu’tazilah mengatakan jika manusia tidak diberi hak kebebsan dalam melakukan perbuatannya, maka dia tidak bisa dianggap sebagai yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya, Jadi masalah pahala dan siksa menjadi tidak jelas dan akan menjadi jelas kedudukannya jika diakui bahwa manusia mempunyai andil terhadap perbuatannya. Menurut konsep Asy’ariah bahwa manusia dipandang lemah, manusia dalam kelemahannya banyak bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah, Perbuatan manusia bukanlah diwujudkan manusia sendiri, tetapi diciptakan oleh Allah. Manusia bukanlah pencipta, karena tiada pencipta selain dari Allah. Tetapi dalam perwujudannya perbuatan manusia mempunyai bahagian, untuk mengambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kekuasaan mutlak Allah, al Asy’ary memakai istilah al kasb . Dasar teori ini adalah bahwa Allah merupakan pencipta segala perbuatan dan manusia hanya merupakan yang mewadahi dan memperoleh perbuatan-perbuatan tersebut, dan mizan (timbangan) ketaatan dan kemaksiatan juga bersandar kepada teori kasb (perolehan) ini, bukan penciptaan. Sejatinya setiap perbuatan yang dilakukan manusia memiliki dua sisi :
a) Penciptaan yang bersumber dari Allah dan disandarkan kepada-Nya.
b) Perolehan (kasb) dari sisi manusia dan dinisbahkan kepadanya.
Maturidiah berkeyakinan kasb disebabkan oleh potensi yang diberikan Allah kepada hamban-Nya, Seorang hamba sanggup untuk mengerjakan perbuatan dengan potensi yang diciptakan dalam dirinnya, dan dengan potensi itu ia dapat tidak mengerjakan perbuatan itu, Ia sepenuhnya bebas memilih dengan kasb itu. Jika ia menghendaki, maka ia dapat berbuat dan perbuatan itu bersamaan dengan perbuatan yang diciptakan Allah dan jika hamba itu menghendaki meninggalnya, maka ia akan meninggalkan perbuatan itu, Dengan adanya kasb itulah maka ada pahala dan siksa, dan ketika itulah keberadaan Allah sebagai pencipta perbuatan hamba tidak saling menafikan dengan ikhtiar mereka. Kemampuan (isthitho’ah) yang berpengaruh pada kasb ini dan isthitho’ah ini ada ketika perbuatan dilakukan. .
Pemikiran ini hampir sama dengan al Asy’ary namun mereka berbeda pada saat menetapkan kasb itu sesuatu yang diciptakan Allah bersamaan dengan ikhtiar atau tidak, Maturidiah berpendapat bahwa kasb itu semata diwujudkan oleh manusia itu sendiri, dalam masalah ini Maturidiah lebih dekat dengan konsep Mu’tazilah yang secara tegas mengatakan bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri.
4. Keadilan Allah
Mu’tazilah meninjau keadilan Allah dari sudut pendangan manusia, Keadilan erat kaitannya hak, dan keadilan diartikan memberi seseorang dengan haknya, Allah itu adil mengandung pengertian bahwa segala sesuatu perbuatan Allah adalah baik, bahwa ia tidak dapat berbuat buruk, bahawa ia tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibannya kepada manusia, oleh karena itu Allah tidak dapat bersifat zalim dalam memberikan hukuman, tidak dapat menghukum anak orang musyrik lantaran dosa orang tuanya, tidak dapat meletakkan beban yang tak dapat dipikul oleh manusia, dan mesti memberi upah kepada orang yang patuh pada-Nya, dan memberi hukuman kepada orang yang tidak patuh pada perintah-Nya, selanjutnnya keadilan juga mengandung arti berbuat menurut semestinya serta sesuai dengan kepentingan manusia dan memberi upah dan hukuman kepada manusia sejajar dengan corak perbuatannya.
Pendapat yang berseberangan dengan ini dikemukan oleh Asy’ariah yang mengartikan keadilan yaitu menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya dengan maksud Allah yang mempunyai kekkuasaan mutlak terhada segala seusatu yang dimilkinya dan mempergunakannyapun sesuai dengan kehendak dan pengetahui pemiliknnya yaitu Allah. Oleh Karena itu Allah dalam faham Asy’ariah dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, sungguh pun menurut pandangan manusia Allah tidak adil Maturidiah Bukhara mengambil posisi yang lebih dekat dengan kepada posisi Asy’ariah Sedangkan Maturidiah Samarkand lebih mengambil posisi yang lebih dekat kepada kaum Mu’tazilah
Jadi jelaslah bahwa pada prinsipnnya pandangan mereka terhadap keadilan Allah sangat erat kaitannya dengan cara pandang mereka terhadap kebebasan manusia dalam bertindak bila dihadapkan dengan posisi Allah dalam setiap tindakan itu. Karenanya mu’tazilah dan Maturidiah samarkand memandang keadilan itu dari sudut dan posisi manusia, sedangkan Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara lebih mendekatkan pemahaman tentang keadilan Allah dari sudut otoritas Allah terhadap segala tindakan manusia.
II.2 Konsep Iman dan Kufur
Perkataan iman berasal dari bahasa Arab yang berarti tashdiq (membenarkan), dan kufur juga dari bahasa Arab – berarti takzib (mendustakan).
Menurut Hassan Hanafi, ada empat istilah kunci yang biasanya dipergunakan oleh para teologi muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu:
1. Ma’rifah bi al-aql, (mengetahui dengan akal).
2. Amal, perbuatan baik atau patuh.
3. Iqrar, pengakuan secara lisan, dan
4. Tashdiq, membenarkan dengan hati, termasuk pula di dalamnya ma’rifah bi al-qalb (mengetahui dengan hati).
Keempat istilah kunci di atas misalnya terdapat dalam hadis Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri:
من رأي منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذالك أضعف الاءيمان (رواه مسلم)
Artinya:
“Barang siapa di antara kalian yang melihat (marifah) kemungkaran, hendaklah mengambil tindakan secara fisik. Jika engkau tidak kuasa, lakukanlah dengan ucapanmu. Jika itu pun tidak mampu, lakukanlah dengan kalbumu. (Akan tetapi yang terakhir) ini merupakan iman yang paling lemah”
(H.R. Muslim)
Dan kemudian di dalam pembahasan ilmu tauhid/kalam, konsep iman dan kufur ini terpilih menjadi tiga pendapat:
1. Iman adalah tashdiq di dalam hati dan kufur ialah mendustakan di dalam hati akan wujud Allah dan keberadaan nabi atau rasul Allah. Menurut konsep ini, iman dan kufur semata-mata urusan hati, bukan terlihat dari luar. Jika seseorang sudah tashdiq (membenarkan/meyakini) akan adanya Allah, ia sudah disebut beriman, sekalipun perbuatannya tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama.
Konsep Iman seperti ini dianut oleh mazhab Murjiah, sebagaian penganut Jahmiah, dan sebagaian kecil Asy’ariah.
2. Iman adalah tashdiq di dalam hati dan di ikrarkan dengan lidah. Dengan kata lain, seseorang bisa disebut beriman jika ia mempercayai dalam hatinya akan keberadaan Allah dan mengikrarkan (mengucapkan) kepercayaannya itu dengan lidah. Konsep ini juga tidak menghubungkan iman dengan amal perbuatan manusia. Yang penting tashdiq dan ikrar.
Konsep iman seperti ini dianut oleh sebagian pengikut Maturidiah
3. Iman adalah tashdiq di dalam hati, ikrar dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan, konsep ketiga ini mengaitkan perbuatan manusia dengan iman. Karena itu, keimanan seseorang ditentukan pula oleh amal perbuatannya. Konsep ini dianut oleh Mu’tazilah, Khawarij, dan lain-lain.
Dari uraian singkat diatas terlihat bahwa konsep iman di kalangan teolog Islam berbeda-beda. Ada yang hanya mengandung satu unsur, yaitu tashdiq, sebagaimana terlihat pada konsep pertama di atas. Ada yang mengandung dua unsur, tashdiq dan ikrar, seperti konsep nomor dua. Ada pula yang mengandung tiga unsur, tashdiq, ikrar, dan amaliah, sebagaimana konsep nomor tiga di atas.
Di samping masalah konsep iman dan kufur, pembahasan di dalam ilmu tauhid/kalam juga menyangkut masalah apakah iman.itu bisa bertambah atau berkurang atau tidak. Dalam hal ini ada dua pendapat.
1. Iman tidak bisa bertambah atau berkurang.
2. Iman bisa bertambah atau berkurang. Ulama yang berpendapat seperti ini terbagi pula kepada dua golongan:
a. Pendapat yang mengatakan bahwa yang bertambah atau berkurang itu adalah tashdiq dan amal.
b. Pendapat yang mengatakan bahwa yang bertambah dalam iman itu hanya tashdiqnya.
Pada umumnya para ulama berpendapat, iman itu dapat bertambah pada tashdiq dan amalnya. Tashdiq yang bertambah tentu diikuti oleh pertambahan frekuensi amal.
Menurut sebagian ulama, bertambah atau berkurangnya tashdiq seseorang tergantung kepada:
1. Wasilahnya. Kuat atau lemahnya dalil (bukti) yang sampai dan dterima oleh seseorang dapat menguatkan atau melemahkan tashdiq-nya;
2. Diri pribadi seseorang itu sendiri, dalam arti kemampuannya menyerap dalil-dalil keimanan. Makin kuat daya serapnya, makin kuat pula tashdiq-nya. Sebaliknya, jika daya serapnya lemah atau tidak baik, tashdiq-nya pun bisa lemah pula;
3. Pengamalan terhadap ajaran agama. Seseorang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan baik dan benar dan frekuensi amaliahnya tinggi, akan merasakan kekeuatan iman/tashdiq yang tinggi pula. Makin baik dan tinggi frekuensi amaliahnya, makin bertambah kuat iman/tashdiq-nya.

B. Perbandingan Antar Aliran: Iman dan Kufur
Akibat dari perbedan pandangan mengenai unsur-unsur iman, maka timbulah aliran-aliran teologi yang mengemukakan persoalan siapa yang beriman dan siapa yang kafir. Dapaun aliran-aliran tersebut adalah Khawarij, Murji’ah, Mu’tajilah, Asy’ariyah, Maturidiyah dan Ahlus Sunnah.

1. Khawarij
Iman dalam pandangan Khawarij, tidak semata-mata percaya kepada Allah, mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Segala perbuatan yang berbau religius, termasuk di dalamnya masalah kekeuasaan adalah bagian dari keimanan (al-amal juz’un al-iman).
Menurut Khawarij, orang yang tidak mengerjakan shalat, puasa, zakat dan lain-lain, maka orang itu kafir.
Tegasnya sekalian orang mukmin yang berbuat dosa, baik besar maupun kecil, maka orang itu kafir.
Tegasnya sekalian orang mukmin yang berbuat dosa, baik besar maupun kecil, maka orang itu kafir, wajib diperangi dan boleh dibunuh, oleh dirampas hartanya. Demikianlah menurut faham Khawarij.
Aliran Khwarij berpegang pada semboyan la hukma illa lillah menjadi asas bagi mereka dalam mengukur apakah seseorang masih mukmin atau sudah kafir. Asas itu membawa mereka kepada paham, setiap orang yang melakukan perbuataun dosa adalah kafir, akrena tidak sesuai dengan hukum yang ditetapkan Allah. Dengan demikian, orang Islam yang berzina, membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah, memakan harta anak yatim, riba, dan dosa-dosa lainnya bukan lagi mukmin, ia telah kafir. Perbuatan dosa yang membawa kepada kafirnya seseorang menurut golongan ini terbatas pada dosa.

2. Murji’ah
Aliran Murji’ah berpendapat, orang yang melakukan dosa besar tetap mukmin. Adapun soal dosa besar yang mereka lakukan ditunda penyelesaiannya pada hari kiamat. Mereka berpendapat bahwa iman hanya pengakuan dalam hati sehingga orang tidak menjadi kafir karena melakukan dosa besar.
Berdasarkan pandangan mereka tentang iman, Abu-Hasan Al-Asy’ary mengklasifikasikan aliran teologi Murji’ah menjadi 12 subsekte, yaitu Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, Asy-Syimriya, As-Saubaniyah, Ash-Salihiyah, AL-Yunusiyah, Asy-Syimriyah, As-Saubaniyah, An-Najjariyah, Al-Kailaniyah bin Syabib dan pengikutnya, Abu Hanifah dan pengikutnya, At-Tumaniyah, Al-Marisiyah, dan Al-Karramiyah. Sementara itu, harun Nasution dan Abu Zahrah membedakan Murji’ah menjadi dua kelompok utama, yaitu Murji’ah moderat (Murji’ah Sunnah) dan Murji’ah ekstrim (Murji’ah Bid’ah).
Namun kedua belas kelompok tersebut masing-masing memiliki pendapat mengenai Iman dan kufur. Dan aliran Mur’jiah ini kemudian berbeda anggapan tentang batasan kufur yang terpecah dalam tujuh kelompok.
a. Kelompok pertama ini beranggapan: kufur ini beranggapan: kufur itu merupakan sesuatu hal yang berkenaan dengan hati, dimana hati tidak mengenal (jahl) terhadap Allah swt. Adapun mereka yang beranggapan seperti ini ialah para pengikut kelompok Jahamiyyah.
b. Kelompok kedua ini beranggapan: kufur itu merupakan banyak hal yang berkenaan dengan hati ataupun selainnya, seperti tidak mengenal (Jahl) terhadap Allah swt, membenci dan sombong atas-Nya, mendustakan Allah dan rasul-Nya, menyepelekan Allah dan rasul-Nya, tidak mengakui Allah itu Esa dan menganggap-Nya lebih dari satu. Karena itu mereka pun menganggap bisa saja terjadi kekufuran tersebut, baik dengan hati ataupun lisan, tetapi bukan dengan perbuatan, dan begitupun iman.
Mereka pun beranggapan bahwa sesorang yang membunuh ataupun hanya menyakiti nabi dengan tidak karena mengingkarinya, tetapi hanya karena membunuh ataupun menyakiti itu semata, niscaya dia tidaklah disebut kufur. Begitupun seseorang yang meninggalkan kewajiban agama seperti halnya salah dengan tidak karena menghalalkannya, tetapi hanya karena meninggalkan salat itu semata, niscaya dia pun tidaklah disebut kufur.
Tetapi mereka beranggapan: kalau seseorang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, rasul-Nya dan juga orang-orang muslim, niscaya dia pun disebut kufur. Begitupun kalau seseorang beritikad dengan itikad yang menurut kesepakatan segenap orang muslim merupakan suatu kekufuran, atau berbuat dengan perbuatan yang merupakan suatu kekufuran. Niscaya dia pun disebut sebagai orang kafir.
c. Kelompok ketiga ini tidak dijelaskan.
d. Kelompok keempat itu beranggapan: Kufur terhadap Allah itu mendustakan-Nya, membangkang terhadap-Nya dan mengingkari-Nya secara lisan. Karena itu tidaklah kekufuran, kecuali dengan lisan dan bukan dengan selainnya. Adapun anggapan ini dikemukakan oleh Muhammad ibn karam dan para pengikutnya.
e. Kelompok kelima ini beranggapan: kufur itu membangkang melawan dan mengingkari Allah, baik sepenuh hati ataupun secara lisan.
f. Kelompok keenam ini ialah para pengikut Abu Syamr, dimana anggapan-anggapan mereka tentang kufur ini telah di kemukakan dalam uraian yang terdahulu, yang menyangkut anggapannya tentang tauhid dan qadar.
g. Kelompok ketujuh ini ialah para pengikut Muhammad ibn Syabib di mana anggapan-anggapan mereka tentang kufur ini pun telah dikemukakan dalam uraian yang terdahulu, yang menyangkut anggapannya tentang iman.
Adapun kebanyakan pengikut aliran Murji’ah tidak mengkufurkan seseorang yang mentakwilkan al-Quran, bahkan tidak pula mengkufurkan siapa pun selain yang kekufurannya itu telah disepakati orang-orang muslim.

3. Mu’tajilah
Menurut mereka iman adalah pelaksanaan kewajiban-kewajiban kepada Tuhan. Jadi, orang yang membenarkan (tashdiq) tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasul-Nya, tetapi tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban itu tidak dikatakan mukmin. Tegasnya iman adalah amal. Iman tidak berarti pasif, menerima apa yang dikatakan orang lain, iman mesti aktif karena akal mampu mengetahui kewajiban-kewajiban kepada Tuhan.
Kaum Mu’tajilah berpendapat bahwa orang mukmin yang mengerjakan dosa besar dan mati sebelum tobat, tidak lagi mukmin dan tidak pula kafir, tetapi dihukumi sebagai orang fasiq.
Di akhirat ia dimasukkan ke neraka untuk selama-lamanya, tetapi nerakanya agak dingin tidak seperti nerakanya orang kafir. Dan tidak pula berhak masuk surga. Jelasnya menurut kaum Mutazilah, orang mu’min yang berbuat dosa besar dan mati sebelum tobat, maka menempati tempat diantara dua tempat, yakni antara neraka dan surga (manzilatan bainal manzilatain).

4. Asy’ariyah
Kaum Asy’ariyah – yang muncul sebagai reaksi terhadap kekerasan Mu’tazilah memaksakan paham khalq al-Quran – banyak membicarakan persoalan iman dan kufur. Asy’ariyah berpendapat bahwa akal manusia tidak bisa merupakan ma’rifah dan amal. Manusia dapat bahwa akal manusia tidak bisa merupakan ma’rifah dan amal. Manusia dapat mengetahui kewajiban hanya melalui wahyu bahwa ia berkewajiban mengetahui Tuhan dan manusia harus menerimanya sebagai suatu kebenaran. Oleh karena itu, iman bagi mereka adalah tashdiq. Pendapat ini berbeda dengan kaum Khawarij dan Mu’tajilah tapi dekat dengan kaum Jabariyah.
Tasdiq menurut Asy’ariyah merupakan pengakuan dalam hati yang mengandung ma’rifah terhadap Allah (qaulun bi al-nafs ya tadhammanu a’rifatullah).
Mengenai penuturan dengan lidah (iqrar bi al-lisan) merupakan syarat iman, tetapi tidak termasuk hakikat iman yaitu tashdiq . argumentasi mereka istilah al-nahl, ayat 106.
من كفر بالله من بعد أيمانه الأمن أكره و قلبه مطمئن بالإيمان
Seseorang yang menuturkan kekafirannya dengan lidah dalam keadaan terpaksa, sedangkan hatinya tetap membenarkan Tuhan dan rasul-Nya, ia tetap dipandang mukmin. Karena pernyataan lidah itu bukan iman tapi amal yang berada di luar juzu’iman. Seseorang yang berdosa besar tetap mukmin karena iman tetap berada dalam hatinya.
5. Al-Maturidiyah
Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan. Pengertian ini dikemukakan oleh Al-Maturidi sebagai bantahan terhadap al-Karamiyah, salah satu subsekte Murji’ah. Ia berargumentasi dengan ayat al-Quran surat al-Hujurat ayat 14.
Ayat tersebut dipahami al-Maturidi sebagai suatu penegasan bahwa keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkataan semata, tanpa diimani pula oleh kalbu. Apa yang diucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah. Al-Maturidi tidak berhenti sampai di situ. Menurutnya, tashdiq, seperti yang dipahami di atas, harus diperoleh dari ma’rifah. Tashdiq hasil dari ma’rifah ini didapatkan melalui penalaran akal, bukan sekedar berdasarkan wahyu. Lebih lanjut, Al-Maturidi mendasari pandangannya pada dalil naqli surat Al-Baqarah ayat 260. Pada surat Al-Baqarah tersebut dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan Nabi Ibrahim meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan menghidupkan orang yang sudah mati. Permintaan Ibrahim tersebut, lanjut Al-maturidi, tidaklah berarti bahwa Ibrahim belum beriman. Akan tetapi, Ibrahim mengharapkan agar iman yang telah dimilikinya dapat meningkat menjadi iman hasil ma’rifah. Jadi, menurut Al-Maturidi, iman adalah tashdiq yang berdasarkan ma’rifah. Meskipun demikian, ma’rifah menurutnya sama sekali bukan esensi iman, melainkan faktor penyebab kehadiran iman. Adapun pengertian iman menurut Maturidiyah Bukhara, seperti yang dijelaskan oleh Al-Bazdawi, adalah tashdiq bi al qalb dan tashdiq bi al-lisan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tashdiq bi al-qalb adalah meyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud demgan tashdiq al-lisan adalah mengakui kebenaran seluruh pokok ajaran Islam secara verbal. Pendapat ini tampaknya tidak banyak berbeda dengan Asy’ariyah, yaitu sama-sama menempatkan tashdiq sebagai unsur esensial dari keimanan walaupun dengan pengungkapan yang berbeda.

6. Ahlus Sunnah
Menurut Ahlus Sunnah, Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.
Orang mukmin yang melakukan dosa besar dan mati sebelum tobat, maka orang itu tetap mukmin. Bila orang itu tidak mendapat ampunan dari Allah dan tidak pula mendapat syafa’at Nabi Muhammad saw untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt maka orang itu dimasukkan ke neraka buat sementara, kemudian dikeluarkan dari neraka untuk dimasukkan ke surga.
Orang mukmin bisa menjadi kafir (murtad), karena mengingkari rukun iman yang enam, misalnya: ragu-ragu atas adanya Tuhan, menyembah kepada makhluk, menuduh kafir kepada orang Islam.

C. Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Allah

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, mahakuasa dan Maha Berkehendak. Keyakinan demikian disepakati oleh semua umat Islam. Namun, mereka berbeda pendapat tentang kemutlakan kekuasaan dan kehendak Tuhan itu. Apakah kehendak dan kekuasaan Tuhan itu bersifat mutlak tanpa batas atau ada batas-batas tertentu sehingga Tuhan “tidak berkuasa mutlak”?.
Adapun berikut ini beberapa pendapat aliran-aliran mengenai kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, yaitu:
1. Mu’tazilah
Mu’tazilah, sebagai aliran rasionalis yang menempatkan akal pada posisi yang tinggi dan meyakini kemampuan akal untuk dapat memecahkan problema teologis, berpendapat, kekuasaan Tuhan tidak mutlak sepenuhnya. Kekuasaan-Nya dibatasi oleh Tuhan tidak mutlak sepenuhnya. Kekuasaan-Nya dibatasi oleh beberapa hal yang diciptakan-Nya sendiri. Hal-hal yang membatasi kekuasaan Tuhan tersebut antara lain adalah:
a. Kewajiban-kewajiban Tuhan untuk menunaikan janji-janji-Nya seperti janji memasukkan orang yang saleh ke dalam surga dan orang yang berbuat jahat ke dalam neraka. Tuhan wajib menepati janji ini. Dengan demikian, meskipun Tuhan berkuasa memasukkan orang jahat ke dalam surga, tapi kekuasaannya dibatasi oleh janji-Nya sendiri. Jika Tuhan paksakan juga memasukkan orang jahat ke dalam surga berarti Tuhan tidak adil dan melanggar janji.
b. Kebebasan dan kemerdekaan manusia untuk melakukan perbuatannya. Menurut Muktazilah, Allah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia untuk melakukan perbuatan. Karena itu, manusia menciptakan perbuatannya sendiri. Manusialah yang memilih dan menentukan, berbuat atau tidak, dan apa yang akan ia perbuat. Karena Allah sudah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia memilih dan menentukan perbuatannya itu, maka kekuasaan Tuhan terhadap perbuatan manusia itu tidak mutlak lagi.
c. Hukum alam. Allah menciptakan alam semesta ini dengan hukum-hukum tertentu yang bersifat tetap. Hukum-hukum itu biasanya dinamakan hukum alam, seperti matahari terbit di sebelah timur dan tenggelam di sebelah Barat, benda tajam melukai, api membakar, dan lain-lain. Hukum alam – yang pada hakikatnya adalah hukum Allah karena Alah yang menciptakan hukum itu – sudah ditentukan oleh Tuhan. Dengan ketentuan tersebut, Tuhan tidak berkuasa mutlak lagi. Kekuasaanya-Nya dibatasi oleh hukum-hukum yang diciptakan-Nya sendiri.

2. Asy’ariyah
Pendapat Mu’tazilah di atas bertolak belakang dengan pendapat Asy’ariyah. Menurut Asy’ariyah. Tuhan berkuasa mutlak atas segala-galanya. Tidak ada satupun yang membatasi kekuasaan-Nya itu. Karena kekuasaan Tuhan bersifat absolute, biasa saja Tuhan memasukkan orang jahat atau kafir ke dalam surga atau memasukkan orang mukmin yang saleh ke dalam nereka, jika hal itu memang dikehendaki-Nya. Apabila Tuhan berbuat demikian, menurut pendapat ini, bukan berarti Tuhan tidak adil. Keadilan Tuhan tidaklah berkurang dengan perbuatan-Nya itu sebab semua yang ada saja terhadap ciptaan dan milik-Nya.
Sebagai zat yang memiliki kekuasaan absolute dan mutlak, bagi Asy’ariyah, Tuhan tidak terikat dengan janji-janji, norma-norma keadilan, bahkan tidak terikat dengan janji-janji, norma-norma, bahkan tidak terikat dengan apa pun

3. Maturidiyah
Sekalipun golongan ini tidak se ekstrem Asy’ariyah, yang memiliki paham yang dekat dengan Asy’ariyah. Golongan maturidiyyah berpendapat bahwa Tuhan memiliki kekuasaan mutlak, namun kemutlakannya tidak semutlak paham yang dianut oleh Asy’ariyah kemudian kelompok Maturidiyyah ini terbagi menjadi Maturidiyyah Bukhara dan Maturidiyyah Samarkand Maturidiyyah Bukhara berpendapat bahwa:
Tuhan tidak mungkin melanggar janji-janji-Nya memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat. Pendapat al-Bazdawi ini menunjukkan bahwa kekuasaan Tuhan tidak mutlak sepenuhnya sebagaimana pendapat Asy’ariyah sebab masih terkandung adanya kewajiban Tuhan, yaitu kewajiban menepati janji.
Kalau Maturidiyyah Bukhara lebih dekat kepada pemikiran Asy’ariyah. Matudiridiyyah Samarkan lebih dekat kepada pemikiran Mu’tazilah sekalipun tidak seekstrim Mu’tazilah. Bagi golongan ini, Tuhan memang memiliki kekuasaan mutlak, namun kekuasaan-Nya dibatas oleh batasan yang diciptakan-Nya sendiri. Batasan-batasan tersebut, menurut Prof. Dr. Harun Nasution adalah:
a. Kemerdekaan dalam kemauan dan perbuatan yang, menurut pendapat mereka, ada pada manusia.
b. Keadaan Tuhan menjatuhkan hukuman bukan sewenang-wenang, tetapi berdasarkan atas kemerdekaan manusia dalam mempergenukan daya yang diciptakan Tuhan dalam dirinya utnuk berbuat baik atau berbuat jahat.
c. Keadaan hukuman-hukuman tuhan, sebagai kata al-Bazdawi, tak boleh tidak mesti terjadi.

BAB III. PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Khawarij, Murjiah dan Mu’tazilah bahwa pelaku dosa besar dikategaorikan sebagai kafir, tempat mereka kelak di kemudian hari adalah neraka kecuali pendapat mu’tazilah yang menyebutnya diantara dua tempat, dan sangat berbeda dengan Asy‘ariyah dan Maturidiah yang menggolongkannya mukmin, dan jika Allah memberi ampunan dia akan masuk surga dan sebaliknya.
Mengenai sifat Allah Mu’tazilah berpendapat bahwa sifat Allah sesuatu yang qadim sama dengan qadimnya Allah, dan menurut Asy’ariah sifat berada diluar Zat-Nya dan sifat itu sama qadimnya dengan Zat-nya, Allah mengetahui dengan sifat ilmuNya, bukan dengan Zat-Nya, sedangkan Maturidiah mengambil pendapat antara Mu’tazilah dan Asy’ariah.Berkenaan dengan perbuatan manusia mu’tazilah mengakui bahwa seluruh perbuatan manusia adalah hasil perbuatan manusia itu sendiri, berbeda dengan Asy’ariah yang berpendapat bahwa perbuatan itu adalah atas kehendak Allah, dengan teory kasb. Perbuatan manusia di ukur dari dua sisi ciptaan Allah dan sisi manusia. Maturidiah mengambil posisi kasb dan perbuatan manusia itu sama ciptaan Allah.
Menurut Mu’tazilah dan Maturidiah Samarkand mengartikan keadilan itu bahwa Allah berbuat menurut kepentingan manusia dan memberi upah dan hukuman kepada manusia sejajar dengan corak perbuatannya. Sedangkan pendapat Asy’ariah dan Maturidiah Bukhara mengartikan adil bahwa Allah bebas berbuat apa saja yang dikehendakiNya, sungguh pun menurut pandangan manusia Allah tidak adil.

2.Saran-Saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan maka untuk itu kami sangat membutuhkan masukan, dan kritikan konstruktif demi sempurnya makalah ini

DAFTAR PUSTAKA
A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta : PT. Al Husna Zikra, 1995) h.109-110
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan terjemahannya
Harun Nasution, Islam: di tinjau dari berbagai aspeknya (Jakarta : UI Pres, 1986)
——————, Teologi Islam : aliran-aliran, sejarah analisa perbandingannya (Jakarta : UI Press, 1986)
Nadvi, Muzaffaruddin, Pemikiran Muslim dan Sumbernya, (Pustaka : Jakarta, 1984)
Syahrastani, Muhammad ibn Abd. Karim, Milal wan Nihal, Ed. Muhammad Ibn al Fath Allah Al Bardan, Kairo:1951)
www. wisdoms4all.com/ind.
Zahrah, Abu Imam Muhammad, Aliran Politik dan Aqidah Dalam Islam, Terj. Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, (Jakarta : Logos, 1996 )

7 06 2010
kelompok 8

nyobian

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: